Wilujeng Sumping...Sugeng Rawuh...Selamat datang

Wilujeng Sumping...Sugeng Rawuh...Selamat datang

Semoga blog ini memberikan manfaat bagi pengunjung sekalian....

Selasa, 21 Desember 2010

catatan malam ini

lelah rasanya hari ini..berangkat pagi ba'da shubuh dan pulang tengah malam...
setelah kemarin ke sukabumi yang juga pulang larut malam

tapi itulah harga yang harus ku bayar
pengorbanan yang harus ku tunaikan
serta pengabdian yang menjadi kewajiban

tak terbayang rasanya
bagaimana lelahnya bapak...

pergi pagi pulang pagi
menjadi sopir truk kontainer
demi menjemput nafkah halal bagi keluarganya...

tak terbayang rasanya
bagaimana lelahnya mamah...

pergi pagi pulang sore
keliling dari satu kampung ke kampung lain
menjemput nafkah halal 
menggantikan peran bapak sejak dua tahun terakhir...

teringat akan sebuah nyanyian masa kecil...

" Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa...
  hanya memberi tak harap kembali...
  bagai sang surya menerangi dunia..."

sejauh manakah kasih beta kepada ibu???

Astaghfirullah..hanya ampunan Allah yang bisa menyelamatkan hamba dari semua ini...

andai betul belum setitik pun kasih sayang beta untuk ibu
semoga masih ada waktu untuk berbakti padanya...

Robbighfirlii waliwaliidayya warhamhumaa kamma Rabbayaani shoghiroo...

Amin...

Jumat, 03 Desember 2010

persaudaraan

persaudaraan...
kata ini lah yang saat ini sedang Allah ujikan untuk diri ini
berbagai macam kemelut permasalah di tengah keluarga besar kami
Allah menguji hakikat dari persaudaraan

seringkali ku berpikir
mendalam dan mendasar
atas apa yang terjadi dan apa yang seharusnya ku jadikan dasar 
dalm menjalin persaudaraan ini

sesering itu pulalah kebuntuan yang hanya ku dapatkan
jika bukan karena kasih dan sayang dalam hati ini
yang telah mengakar begitu kuatnya
tentu persaudaraan ini pun akan pupus dengan amat cepat

lantas kerenungkan dari mana adanya rasa kasih dan sayang itu...

dan itulah pertanyaan yang hingga kini belum ketemukan jawabnya...

namun persaudaraan tetaplah harus terikat kuat meski seribu tanya masih belum bisa ku jelaskan jawabnya...

Rabu, 17 November 2010

Pengantin Sederhana

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.

Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah”.

Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, “Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap.” 

disadur dari: http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=517

Minggu, 14 November 2010

Persiapkan Hari Raya mu...

Shalat Ied ditetapkan oleh Allah pada tahun pertama Hijriyah sebagaimana diterangkan oleh Anas: "Rasulullah saw. datang ke Madinah. Ketika itu penduduk Madinah mempunyai dua hari Raya di mana mereka bermain-main didalamnya. Lalu Nabi bertanya: "Apapa kedua hari ini? Mereka menjawab: " Kedua Hari tersebut merupakan hari-hari bermain buat kami semua pada zaman Jahiliyah. Maka Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha." ada yang pun yang manjadi landasan atau dasar hukum dari shalat ied itu sendiri adalah Firman Allah " Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS.108:2).

 ada beberapa hal yang sunnah atau dianjurkan dalam shalat Ied, hal-hal tersebut adalah:
1. Pada tanggal 10 Dzulhijah sunnah tidak memotong kuku dan menggunting rambut sesuai denagn keterangan hadist soheh Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Apabila telah tiba tanggal 10 Dzulhijah dan sebagian diantaramu ingin berkurban, makajanganlah ia menggunting rambut dan mengerat kuku." 

2. Menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan berbagai ibadah berupa dzikir, shalat malam, membaca Al-Quran, takbir, tasbih dan Istighfar. Hal ini bisa dimulai dari sepertiga akhir malam Ied, namun sebaiknya semalam penuh. berdasarkan sabda Nabi saw.: "Barang siapa menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha atas dasar perintah Allah, maka hatinya tidak akan pernah mati pada hari semua hati mati". Sedangkan berdoa pada kedua malam hari tersebut akan dikabul oleh ALlah swt sebagaimana pada malam Jumat dan malam Rajab serta Nisfu Sya'ban

3. Mandi, memakai wewangian, menggosok gigi, dan mengenakan pakaian terbaik sebagaimana mau Shalat Jumat saja sebagai tanda syukur kita pada Allah swt.

4. Makmum segera pergi ke tempat shalat ied dengan tenang setelah shubuh jika tidak berhalangan walau mentari belum terbit agar dapat duduk dekat imam dan tidak banyak melangkahi pundak orang serta akan memperoleh pahala lebih banyak denagn lamanya menunggu shalat.

5. Sunnah berjalan kaki atau tidak berkendara ke tempat shalat Ied, Ali bin Abu Thalib r.a. menerangkan bahwa pergi berjalan kaki ke tempat sahal Ied termasuk sunnah Nabi saw, karena beliau tidak pernah berkendaraan ketika pergi shalat Ied dan mengantar Jenazah.Ulama kalangan Hanafiyah berpendapat " tidak mengapa berkendaraaan ketika pergi shalat Jumat dan shalat dua hari raya. Namun verjalan kaki lebih baik bagi mereka yang mampu."

6. Sunnah untuk mengambil rute jalan yang berbeda saat akan pergi ke sahlat Ied dan akan pulang setelah sahlat Ied, bahkan dianjurkan pada saat pulang memilih rute jalan yang lebih panjang/jauh dibandingkan dengan saat pergi. hal ini agar kedua jalan yang dilalui menjadi saksi dan agar memperoleh pahala yang lebih banyak dari langkah kita.

7. Sunnah bagi Imam untuk segera pergi ke tempat Shalat Idul Adha dan sedikit lambat jika pergi ke tempat shalat Idul Fitri. hal ini bertujuan agar adanya keleluasaan waktu bagi yang mau berkuban dan mengleuarkan zakat.

8. Pada Idul Fitri sunnah makan beberapa butir kurma sebelum shalat Ied, sedangkan pada Idul Adha sunnah makan setelah shalat Ied

9. Memberikan kelapangan kepada kelauarga serta bersedekah sunnah sesuai dengan kemampuannya serta lebih banyak dari biasanya.

10. Menampakan wajah yang  ceria dan senang terhadap sesama kaum Mukmin yang dijumpai, mengunjungi keluarga dan handai taulan yang masih hidup untuk memperkuat hubungan kekeluargaan atu persahabatan.

sumber: Buku Fiqih Shalat Kajian berbagai Mazhab karangan Dr. Wahbah al Zuhaily


Wilujeng Idul Adha 10 Dzulhijah 1430 H

 

Selasa, 09 November 2010

Inti Peradaban Kita (end)

supaya lebih bisa memahami tulisan ini secara komprehensif..silahkan baca dua tulisan sebelumnya..yaitu Inti peradaban kita dan Bersimpati..karena tulisan ini lahir dari rahim yang sama..rahim kegelisahan..rahim keresahan melahirkan sebuah perasaan ketidakadilan bahkan perasaan muak terhadap apa yang terjadi disekitar penulis...

wujud pengabdian dan pengorban semakin hilang ditelan zaman..sosok sederhana si kaya..rendah hati si pandai..serta kesantunan pribadi bangsa kita menjadi sebuah barang yang teramat langka..

menjadi langka karena jauh dari mata kita..mata lahiriyah serta mata batiniyah...

anak-anak bangsa kita tumbuh menjadi anak-anak yang pragmatis..karena desakan dari orang tua untuk segera bekerja dan mengakhiri kuliah diri mereka demi membayar kembali atau balas jasa pada orang tua mereka...

organisasi mahasiswa semakin stagnan...tidak ada gairah untuk bangkit kembali..padahal rakyat menanti aksi nyata para mahasiswa..ya..pada siapa lagi rakyat bangsa kita bertumpu harapan jika bukan pada kita????

rasa pengabdian dan pengorbanan begitu murah dihargai dengan tumpukan rupiah pada orang tua..sebuah kepragmatisan yang begitu melanakan...

 sedang kita mahasiswa adalah orang-orang yang akan menggantikan para pemimpin bangsa kita yang sudah usang ini..jika pengabdian dan pengobanan tidak melekat kuat dalam diri kita..lalu bagaimana nasib bangsa kita ke depan???

dipimpin oleh orang-orang pragmatis..yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan sesaat..kenikmatan duniawi..keuntungan kelompok dan segelintir orang...pemimpin-pemimpin pengecut dan pecundang yang menggadaikan martabat bangsa hanya untuk urusan perut ke bawah...

inikah nasib bangsa kita ke depan???

ku rindu sosok M. Natsir..yang menolak Mobil mewah di masanya..menolak rumah dinas mewah lebih memilih tinggal di rumah pribadinya yang kecil dan sangat sederhana...ngantor dengan jas yang penuh tambalan...tumbuh menjadi pemimpin yang egaliter dan sangat dicintai rakyatnya...

ku rindu sosok birokrat seperti Hatta..tidak pernah membuat urusan menjadi panjang dan berbelit..yang mudah dimudahkan..yang sulit diusahakan menjadi mudah..kesederhanaan yang tercermin dari sikap Hatta..keteguhan akan idealisme yang tertanam kuat tercermin pada kepemimpinannya...

ku rindu seorang pandai seperti Buya Hamka..seorang Ulama yang lembut terhadap umat namun tegas pada lawan mempertahankan martabat agama dan bangsa..ulama yang cerdik..ulama yang santun dan rendah hati..ulama yang rela memilih penjara sebagai tempat menghasilakan karya terbaiknya saat harus bersebrangan pendapat dengan penguasa..ulama yang kuat memegang teguh prinsip kebenaran tanpa harus ngekor pada penguasa yang lalim dan dzolim...

ku rindu seorang kaya yang rendah hati seperti Ustman bin Affan..Abdurrahman bin Auf..yang menjadikan harta bukan sebagai tujuan dan kebanggaan..menjadikan harta bukan sebagai tumpuan..menjadiakn harta sebagai alat meraih ridho Ilahi..tidak pernah padam semangat pengabdian dan pengorbanannya meski diri menjadi orang yang kaya raya...

sungguh ku rindu sosok-sosok manusia yang manjadikan penagbdian dan pengorbanan sebagai keseharian diri mereka yang santun dan berwibawa..yang kaya namun sederhana...yang pintar pandai namun rendah hati...

ditengah pencarian sosok-sosok itu..ku bertanya pada diri ini..darimanakah sifat pengabdian dan pengorbanan itu tumbuh???
tumbuh kuat dan mengakar..tak goyah..bertahan pada setiap putaran zaman yang menggila..darimanakah semua itu muncul????

bagaimankah tumbuh menjadi pribadi-pribadi seperti itu???
bagaimanakah menjadikan diri ini kuat seperti itu???
bagaimankah?????

kini kerinduan itu semakin memuncak..mendesak tanya untuk segera dijawab..menggalang kekuatan asa untuk terus mengharap lahirnya sosok yuang teguh pendirian serta kuat rasa pengabdian dan pengorbanannya pada bangsa terutama pada agama kita...
ku sangat yakin akan tiba masanya hadir kembali seorang Natsir, Hatta, Buya Hamka, Kadiman Singodimejo, dll

Ku yakin itu akan terwujud... 

Anak Indonesia di Bawah Bayang-bayang Bencana

Bencana di Indonesia adalah sebuah keniscayaan, gempa, banjir, tanah longsor, angin topan, kebakaran hutan dan ancaman bahaya bencana sosial seperti kerusuhan, tawuran antar kelompok masyarakat. Belum hilang dari ingatan kita peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004 silam yang kemudian disambut dengan gempa Yogyakarta disusul tsunami di laut selatan jawa,  Ramadhan tahun lalu Jawa Barat yang berpusat di Tasikmalaya kembali dilanda bencana menyusul Sumatra Barat dan Jambi, Banten dan terkahir Indonesia bagian Timur mulai dari sekitar maluku hingga Papua (Wasior). Kini Mentawai disapu tsunami, sedang Merapi diperbatasan DIY dan Jawa Tengah meletus. Itu hanya satu jenis bencana yaitu gempa belum lagi kebakaran hutan yang sering terjadi di Sumatra dan Kalimantan, angin topan di sekitar Pulau Jawa dan bencana lainnya.

Dengan asumsi tadi dan fakta yang sudah terjadi maka masihkah kita akan berleha-leha dalam menyikapi semua itu? Masihkah kita akan berpangku tangan untuk menyiapkan hal itu? Masihkah kita kan beperilaku kuratif terhadap penanganan bencana? Akankah kita biarkan anak-anak kita menjadi korban selanjutnya? Serta setumpuk pertanyaan lainnya untuk kita sebagai pemerintah, masyarakat, LSM, bahkan orang tua. Bukan saatnya lagi kita bertanya pada pemerintah karena itu bukan hanya pekerjaan pemerintah, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita menyiapkan diri kita untuk melindungi anak-anak sebagai penerus bangsa dari bencana yang akan menimpa negara kita. 
Dalam satu kejadian yang sama saat pasca bencana maka korban yang pertama kali ditolong adalah anak-anak karena dia akan menyimpan trauma yang panjang selama kehidupannya, tentu hal ini bukanlah hal yang baik karena akan menyebabkan terganggunya kesehatan kejiwaan mereka. Meski orang dewasa sama-sama menderita trauma namun mereka tidak lebih panjang masa usianya dibandingakan dengan anak-anak (secara umum), sehingga jelaslah anak-anak harus lebih kita perhatikan daripada orang yang lebih dewasa.

Diperlukan penanganan yang efektif agar kita bisa meminimalisir korban pada anak-anak atau paling tidak meminimalisasi dampak dari bencana itu sendiri tehadap anak-anak. Secara umum setelah bencana maka hanya ada dua kemungkinan pertama luka secara fisik atau yang kedua traumatik secara psikis, kesemuanya itu dapat diminimalisasi selama adanya kerjasama yang baik dari masyarakat dengan pemerintah atau paling tidak kesadaran dari orang tua mereka sendiri. 
Bentuk Penanganan terbagi ke dalam dua bagian yaitu Pra Bencana serta pasca bencana. Masing-masing kondisi ini memerlukan penanganan yang berbeda namun terintegrasi sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama yang lain. Bentuk penanganan ini pun melibatkan semua kalangan di masyarakat, bukan hanya urusan pemerintah saja. Semua warga harus terlibat aktif dalam penanganan demi keberlangsungan kehidupan anak-anak agar bisa tumbuh berkembang tampa hambatan traumatik akibat bencana.

Masa Pra Bencana
Pada masa ini lebih dikenal pula dengan sebutan Preventif Service Strategy yaitu Strategi Pelayanan Preventif, sebuah pelayanan penanganan yang bersifat preventif/mencegah. Tujuan dari pelayanan pada penanganan preventif ini adalah untuk meminimalisasi korban anak-anak serta dampak dari bencana itu sendiri terutama dampak fisik dan psikis. Adapun jenis pelayanannya itu sendiri dapat terbagi ke dalam tiga bagian pertama Child Disaster Awarness (CDA), kedua Penguatan Sistem Penanggulangan Bencana dan yang ketiga Housing atau relokasi perumahan yang terindikasi berada ditempat yang rawan bencana.

Tiga hal tersebut dapat meminimalisasi jumlah korban bencana pada anak-anak, sebagai salah satu contoh program CDA di mana pemerintah dapat memasukan cara menyelamatkan diri dari gempa bumi saat disekolah dengan cara diajarkan di sekolah atau dijadikan kurikulum tersendiri. Jika semua murid paham betul cara berlindung dari gempa tentu mereka tidak akan menjadi korban dalam peristiwa gempa atau paling tidak tidak akan sampai menjadi korban yang parah. Contoh yang kedua adalah housing yang berarti relokasi warga ke tempat yang aman, saya kira setiap pemerintah daerah sudah memiliki peta potensi bencana, katakanlah potensi tanah longsor atau aliran lahar gunung berapi. Dengan peta tersebut pemerintah tentu sudah tahu betapa riskannya warga yang hidup disekitar itu, maka sebelum bencana betul-betul terjadi idealnya pemerintah sudah melakukan relokasi terhadap warganya.

Masa Pasca Bencana
Pada masa ini lebih dikenal dengan sebutan Curative Service Strategy atau Strategi Pelayanan Kuratif, sebuah pelayanan penanganan yang bersifat kuratif atau memperbaiki. Berbeda dengan pelayanan preventif, pada pelayanan kuratif ini lebih ditekankan pada bagaimana menyembuhkan dan atau mengobati korban bencana khususnya anak-anak sehingga mereka dapat bertahan hidup, pelayanan ini pun bersifat fisik dan psikis. Adapun jenis pelayanan yang dapat dilakukan pada masa pasca bencana yaitu Public Asisstance (pendampingan Masyarakat), Public Health (Kesehatan Masyarakat), Housing (perumahan). PA adalah upaya untuk mengetahui kebutuhan mendasar dan mendesak yang harus segera dipenuhi pada masa tanggap darurat, PH adalah upaya untuk melakukan pengobatan pada korban anak-anak baik fisik ataupun psikis, pengobatan fisik dilakukan oleh para profesional dari paramedis sedangakan psikis berupa trauma healing dari para relawan baik psikolog, psikiater, maupun pekerja sosial yang fokus terhadap pendampingan sosial dan kejiwaan terhadap anak-anak. Sedangkan Housing (perumahan) pada masa pasca bencana berarti rehousing yaitu bagaimana saat pembangunan rumah atau relokasi korban dari tempat kejadian ketemapat yang lebih aman dengan memperhatikan kondisi sosial anak-anak seperti teman bermain serta tempat bermainnya.

Pada program serta proses tersebut diperlukan pengawasan dari seorang profesional, sehingga tidak sembarang orang bisa menjadi relawan. Haruslah orang yang memiliki ilmu yang cukup serta keahlian khusus sehingga tidak salah dalam melakukan pelayanan tehadap anak-anak. Dengan upaya inilah kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diawal tadi serta diperlukan sinergisitas dari semua pihak sehingga kita tidak akan pernah khawatir lagi terhadap perkembangan anak-anak kita meski mereka tumbuh dan berkembang di bawah bayang-banyang bencana.

Inti Peradaban Kita (1)

Dalam sebuah acara bedah buku di Bandung pembedah sekaligus penulis mengungkapkan sebuah kalimat tanpa dikuti oleh penjelasan, kalimat itu pendek namun membuat saya berpikir keras untuk menelaah lebih jauh tentang isi dari kalimat tersebut. kalimat itu berbunyi

" Inti dari peradaban kita adalah Pengabdian dan Pengorbanan"

pembicara hanya mengungkapkan contoh-contoh kecil dan sangat pendek setelah itu sya coba merenungkan apa yang dimaksud beliau dengan kalimat ini???

sampai akhirnya saya menemukan realitas yang sangat menarik membuat saya sadar akan hal ini serta mencoba manjadikan dua kata dalam kalimat ini sebagai prinsip kehidupan yaitu pengabdian dan pengorbanan...

mengabdi tanpa berkorban adalah pragmatisme prilaku
berkorban tanpa pengabdian adalah wujud kesia-siaan

dalam setiap aspek kehidupan kontemporer dua kata ini semakin hilang dan surut ditelan waktu, ditelan kepongkahan manusia serta paham kebendaan yang menggila dan menggurita serta mnagkar kuat dalam hati dan jiwa manusia...

semakin sulit kita melihat orang yang mampu mengabdi dan berkorban..sehingga wajar kehidupan saat ini begitu sulit..dunia seperti tanpa orang berbudi...

kenapa ada orang yang pintar dan soleh seperti pak habibi,pak anies baswedan dll
kenapa ada pengusaha pintar dan soleh seperti Sandiaga S. Uno dll
kenapa ada pejabat baik pintar dan soleh seperti Adhiaksa Dault,hidayat Nurwahid,Makmur Sunusi dll
kenapa generasi mereka begitu baik dan sekrang rata2 usia mereka sudah 35 tahun keatas??

disadari atupun tidak karena dulu mereka dididik oleh guru yang mengabdi dan berkorban untuk SDM Indonesia yang berkualitas...
karena mereka dididik oleh ust.dan kiyai yang begitu kuat untuk tidak tergoda dunia, mereka mengabdi dan berkorban agar generasi setelah mereka bisa menjadi generasi Rabbani...

lalu bagaimana sekarang???

Guru sekarang mengajar mengejar Sertifikasi dengan imbalan kenaikan gaji...masuk kelas dengan pikiran bagaimana agar sertifikasi mereka lolos..masihkah terpikir oleh ibu dan bapak guru kita tentang bagimana menyipakna SDM unggul???

Guru sekarang mana mau mengajar jika tanpa dibayar dengan alasan biaya hidup makin mahal..pengabdian dan pengorbanan sepertinya mulai hilang dari diri mereka..gaya hidup semakin materialis..konsumtif dan tanpa adalagi transfer nilai pada muridnya..

Ust.sekarang males ceramah kalo tidak dibayar..marah kalo kecil bayarannya..pundung..tidak mau ngisi lagi kalo sedikit bayarannya...

ust.sekarang lebih memilih jadi khotib di hotel,di kantor-kantor besar, ato komplek perumahan elit yang tentu besar dan elit pula bayarannya..untuk ngisi di kampus di majelis taklim di pengajian orang kere..hanya satu kaliamt yang mereka ucapkan "maaf saya sudah agenda" betulkah??? ato hanya sekedar cara untuk menolak secara halus karena tahu tidak akan dibayar?

mana pengabdian dan pengorbanan itu ust.???sepertinya apa yang Ust,ceritakan dalam khutbah dan ceramah semakin tidak pernah ada artinya jika Ust.sendiri tidak melakukannya...

terlebih lagi jika ust. kita sudah masuk ke ranah politik..parlemen, eksekutif dll..semakin susah unutk bisa bertemu..staff yang berlapis-lapis..protokoler yang memuakkan..padahal ust.bukan presiden lho..apalagi nabi...setahu saya Nabi Muhammad tidak begitu..pun juga denagn para Sahabatnya saat sudah Khalifah..tetap bisa ditemui rakyatnya dimana pun mereka berada...

Orang tua kita jaman sekarang..hmmm sepertinya juga makin sulit untuk bisa mengabdi dan berkorban..mereka menjadi orang tua yang semakin penghitung..banyak mereka yang ngajari anak-anaknya seperti ini...

"Nak cepatlah besar..kalo sudah besar kamu bisa sekolah..terus kuliah..lulus kuliah kamu bisa bekerja..uangnya bisa buat bantu ibu dan bapak" mereka menolak itu dikatakan sebagai uang timbal jasa..walopun kenyataannya begitu..

saat ada anak yang kurang ajar bagi mereka karena tidak mau "berterimaksih" dengan cara membiayai hidup mereka maka orang tua jaman sekarang akna menghitung...

"denger yah..kamu ibu kandung 9 bulan..lahir di bidan denagn biaya sekia juta..masuk tk abis sekian juta..sd..smp..sma..samp kamu kuliha itu abis ratusan juta..ayo kamu segere kerja yang tinggi..gaji yang besar..biar bisa kasih ibu uang..bla..bla..bla"

padahal semua itu emang kewajiban orang tua wujud pengabdian dang pengorbanan pada anak-anaknya..knapa mereka jadi orang serba menghitung begitu???

sepertinya kebanggaan bagi orang tua jaman sekarang adalah ketika anak-anaknya bergaji besar punay rumah mewah..mobil mewah dan segala benda mewah...

kenapa bukan akhlak yang jadi tujuan..serta hal lainnya yang diluar sifat kebendaan yang bisa dibanggakan???

tahukah akibat dari pemikiran orang tua yang seperti ini pada anak-anak mereka???

ketika kuliah hanya satu yang ada dipikiran mereka "lulus cepat" kenapa "segera kerja"
dampakanya....

to be continued... 

Senin, 08 November 2010

Cahaya Cinta Ibrahim a.s.

Bissmillahirrahmanirrahiim
Memasuki masa tuanya Ibrahim masih belum juga dikaruniai keturunan yang dapat melanjutkan risalahnya sebagai seorang Nabi Allah, namun Ia tetap bersemangat dan senantiasa bersyukur kepada Rabbnya.suatu ketika setelah menikah dengan Bunda Hajar, datanglah Jibril memberikan kabar gembira yang membuat Ibrahim begitu bersyukur kepada Rabbnya.”Hai Ibrahim berbahagialah Engkau karena Engkau akan dikaruniai seorang anak”dengan haru Ibrahim menjawab”mana mungkin Jibril?sedangkan aku adalah seorang yang sudah tua!”. namun ternyata apa yang disampaikan Jibril itu benar, bunda Hajar mengandung sedang Ibrahim menunggu kelahiran jabang bayi dengan begitu bahagia bercampur dengan harap-harap cemas. setalah kurang lebih sembilan bulan Ibrahim menunggu akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan Ibrahim memberinya nama Ismail.
Hari demi hari ia rasakan dengan suka cita sampai suatu saat datang sebuah perintah yang sempat membuat ibrahim bingung yaitu Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Ismail beserta ibunya di sebuah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwah,dan diajaklah mereka oleh Ibrahim dengan menunggang unta. sepanjang perjalanan Ibrahim gelisah sampai akhiranya ia tiba di gurun pasir yang dimaksud, “wahai Istreriku tinggallah engkau di sini bersama putraku” begitu lah titah singkat ibrahim sebagai salam perpisahan pula.Ibrahim berbalik meninggalkan mereka berdua tanpa di berikan bekal apapun di tengah padang pasir yang tandus! ketika hendak melangkah Bunda Hajar berkata “Wahai suamiku kenapa kau tinggalkan kami di isini?” sebanyak tiga kali Bunda bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada suaminya, namun Ibrahim tetap tidak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Sampai akhirnya Bunda hajar kembali bertanya ” wahai suamiku apakah ini perintah dari Allah Rabbmu dan juga Rabb kami?” seketika itu Ibrahim berhenti dari langkahnya dan berbalik, sambil meneteskan air mata ia menjawab dengan bergetar “Benar wahai Isteriku”.” Kalau begitu pergilah engkau wahai suamiku, jangan pernah khawatirkan keadaan kami di sini karena sesungguhnya Allah semata yang akan menjamin kami di sini”. dan pergilah Ibrahim dengan berat hati dan langkah yang gontai.
Kesulitan diujikan kepada Bunda Hajar, Ismail kecil menangis karena haus sedang tidak ada setetes air pun disekitar mereka. dari kejauhan Bunda melihat riak air di dekat sebuah bukit, berlarilah ia kearah sana sesampainya di sana ia hanya menemukan bukit batu yang tandus. namun ia tidak menyerah Ia tetap mencari, ia pandangi sekeliling bukit itu ketika pandangannya jatuh ke bukit tempat Ismail berada ia melihat air kembali kemudian ia berlari kembali ke arah riak air itu, semuanya ia lakukan demi Ismail tercinta dan ternyata bukit itu hanyalah sebuah bukit yang tandus tak berbeda dengan bukit pertama tadi. Bunda hajar tetap berlari di antara kedua bukit itu sebanyak 7 kali sembari betasbih Kepada Rabbnya. dengn lemas dan gontai ia kembali menghampiri Ismail dan ternyata Mukjizat Allah nampak terlihat,. di antara celah-celah gurun dekat kaki Ismail bergerak-gerak keluarlah air yang jernih sehingga Bunda dan Ismail kecil tidak kehausan lagi.bahkan tempat itu menjadi sebuah peristirahatan para saudagar yang sedang dalam perjelanan hingga akhirnya menjadi sebuah perkampungan penduduk.
Kurang lebih sudah 15 tahun sudah Ibrahim meninggalkan Bunda hajar dan Ismail kecil, kerinduan terhadap isteri dan anak tercinta menyusup setiap waktu kedalam hati sanubarinya, menghiasi setiap malamnya, mebuahkan bulir bulir airmata yang menganak sungai harapan untuk betemu hingga bermuara pada doa yang berlabuh dan larut ke samudera Allah yang Maha Mengabulkan atas Doa hambaNya. sampai datanglah Jibril kepadanya seraya berkata ” wahai Ibrahim rasul Allah, pergi temui anak dan isterimu di sana,kaena sesunguhnya mereka pun sedang merasakan hal yang sama dengan dirimu”. betapa bahagianya Ibrahim kerinduan yang membuncah membuat ia bangkit melangkah menyusuri gersangnya gurun pasir untuk bertemu dengan isteri dan anak tercinta.
sampailah ia di sebuah perkampungan yang sangat asing bagi dirinya, “Ibrahim!!kaukah itu” suara seorang perempuan memanggil dari sebuah pintu rumah, Ibrahim pun menoleh dengan penuh harap “wahai suamiku, engkaukah Ibrahim rasul Allah suamiku” setengah berlari kedua insan itu saling mendekat dan bertemu dalam keharuan….sedang mereka terlarut dalam keharuan setelah 15 tahun tidak bertemu tiba-tiba ada suara seorang remaja yang memanggil dengan getar suaranya yang memperlihatkan keheranan “Ibu siapakah lelaki yang ini?” Bunda Hajar pun menjawab “Wahi Ismail Putraku inilah ayahmu yang selama ini kau tanyakan, inilah ayahmu rasul Allah yang sangat taat padaNya” sambil berlinang air mata keharuan dan kerinduan dua orang shaleh itu berpelukan menghabiskan kerinduan-kerinduan yang ada dalam hati mereka.
Suatu malam Ibrahim bermimpi sedang menyembelih putra kesayangannya Ismail, Ibrahim tersadar dari tidurnya ia bangun dan menagis seraya berkata “duhai Allah yang menentukan nasib manusia, apa maksud dari mimpi ini ya Rabb?jika ini memang benar perintahMu maka berikanlah hamba petujuk hingga hamba yakin bahwa ini benar adalah perintahMu!” tiga malam berturut-turut Ibrahim mimpi hal yang sama, sehingga membuat ia yakin bahwa mimpinya itu adalah benar perintah Allah.
Suatu siang yang cerah Ibrahim Mengasah pisau sambil menagis, pisau yang akan menghantarkan Ismail pada kematian karena disembelih olehnya!setelah diyakini tajam Ibrahim mengajak putranya ke sebuah bukit di atas batu besar mereka duduk kemudian Ibrahim berkata pada putranya “Wahai putraku,tiga malam berturut-turut ayah bermimpi yang sekaligus mimpi itu perintah dari Alah”,”apakah mimpinya duhai Ayah” kata Ismail, ” dalam mimpi itu Ayah diperintahkan menyembelih sesuatu untuk ayah kurbankan kepada Allah, yang sembelih itu adalah engkau wahai anakku”Ibrahim tidak kuasa lagi meneruskan ucapannya,Ia menunduk dengan dalam, kemudian tanpa disangka sebelumnya Ismail berkata “wahai Ayah jika itu memang benar perintah Allah maka lakukanlah duhai Ayah!Aku ridho,Aku rela, Aku Ikhlas” Ibrahim tak bergeming tangisannya semakin pecah “lakukan sekarang juga duhai Ayah,bukalah baju bagian atasku agar darah dari leherku tidak mengotori baju ini, karena jika terdapat linangan darah tentu bunda akan sangat terpukul” dengan tenaga sisa yang ada Ibrahim membaringkan Ismail ke arah kiblat “Bismillahi LaIllaha IlaAllahuwahdah Lasyarikalah Lahul Mulku Wa Laul Hamdu Yuhyi Wa Yumit, Allahuakbar!!!!!!!!!!!”leher itu Ibrahim sembelih sambil menagis sedang matanya terpejam tak kuasa melihat anaknya yang sedang meronta meregang nyawa….
“Ayah………Ayah……..Ayah………”suara seorang anak memanggil dari arah belakang, dengan terkejut Ibrahim membuka matanya dan ternyata yang ia potong adalah seelor domba besar sedang putra tercintanya ada di belakang sedang berdiri sambil mengis memanggil namanya.”anakku Ismail………Anakku Ismail……..terimakasih duhai Allah!!!!!
Jika Ibrahim itu kita lalu bagaimanakah sikap kita? dan apa yang akan kita lakukan? setaat ibrahimkah kita?