supaya lebih bisa memahami tulisan ini secara komprehensif..silahkan baca dua tulisan sebelumnya..yaitu Inti peradaban kita dan Bersimpati..karena tulisan ini lahir dari rahim yang sama..rahim kegelisahan..rahim keresahan melahirkan sebuah perasaan ketidakadilan bahkan perasaan muak terhadap apa yang terjadi disekitar penulis...
wujud pengabdian dan pengorban semakin hilang ditelan zaman..sosok sederhana si kaya..rendah hati si pandai..serta kesantunan pribadi bangsa kita menjadi sebuah barang yang teramat langka..
menjadi langka karena jauh dari mata kita..mata lahiriyah serta mata batiniyah...
anak-anak bangsa kita tumbuh menjadi anak-anak yang pragmatis..karena desakan dari orang tua untuk segera bekerja dan mengakhiri kuliah diri mereka demi membayar kembali atau balas jasa pada orang tua mereka...
organisasi mahasiswa semakin stagnan...tidak ada gairah untuk bangkit kembali..padahal rakyat menanti aksi nyata para mahasiswa..ya..pada siapa lagi rakyat bangsa kita bertumpu harapan jika bukan pada kita????
rasa pengabdian dan pengorbanan begitu murah dihargai dengan tumpukan rupiah pada orang tua..sebuah kepragmatisan yang begitu melanakan...
sedang kita mahasiswa adalah orang-orang yang akan menggantikan para pemimpin bangsa kita yang sudah usang ini..jika pengabdian dan pengobanan tidak melekat kuat dalam diri kita..lalu bagaimana nasib bangsa kita ke depan???
dipimpin oleh orang-orang pragmatis..yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan sesaat..kenikmatan duniawi..keuntungan kelompok dan segelintir orang...pemimpin-pemimpin pengecut dan pecundang yang menggadaikan martabat bangsa hanya untuk urusan perut ke bawah...
inikah nasib bangsa kita ke depan???
ku rindu sosok M. Natsir..yang menolak Mobil mewah di masanya..menolak rumah dinas mewah lebih memilih tinggal di rumah pribadinya yang kecil dan sangat sederhana...ngantor dengan jas yang penuh tambalan...tumbuh menjadi pemimpin yang egaliter dan sangat dicintai rakyatnya...
ku rindu sosok birokrat seperti Hatta..tidak pernah membuat urusan menjadi panjang dan berbelit..yang mudah dimudahkan..yang sulit diusahakan menjadi mudah..kesederhanaan yang tercermin dari sikap Hatta..keteguhan akan idealisme yang tertanam kuat tercermin pada kepemimpinannya...
ku rindu seorang pandai seperti Buya Hamka..seorang Ulama yang lembut terhadap umat namun tegas pada lawan mempertahankan martabat agama dan bangsa..ulama yang cerdik..ulama yang santun dan rendah hati..ulama yang rela memilih penjara sebagai tempat menghasilakan karya terbaiknya saat harus bersebrangan pendapat dengan penguasa..ulama yang kuat memegang teguh prinsip kebenaran tanpa harus ngekor pada penguasa yang lalim dan dzolim...
ku rindu seorang kaya yang rendah hati seperti Ustman bin Affan..Abdurrahman bin Auf..yang menjadikan harta bukan sebagai tujuan dan kebanggaan..menjadikan harta bukan sebagai tumpuan..menjadiakn harta sebagai alat meraih ridho Ilahi..tidak pernah padam semangat pengabdian dan pengorbanannya meski diri menjadi orang yang kaya raya...
sungguh ku rindu sosok-sosok manusia yang manjadikan penagbdian dan pengorbanan sebagai keseharian diri mereka yang santun dan berwibawa..yang kaya namun sederhana...yang pintar pandai namun rendah hati...
ditengah pencarian sosok-sosok itu..ku bertanya pada diri ini..darimanakah sifat pengabdian dan pengorbanan itu tumbuh???
tumbuh kuat dan mengakar..tak goyah..bertahan pada setiap putaran zaman yang menggila..darimanakah semua itu muncul????
bagaimankah tumbuh menjadi pribadi-pribadi seperti itu???
bagaimanakah menjadikan diri ini kuat seperti itu???
bagaimankah?????
kini kerinduan itu semakin memuncak..mendesak tanya untuk segera dijawab..menggalang kekuatan asa untuk terus mengharap lahirnya sosok yuang teguh pendirian serta kuat rasa pengabdian dan pengorbanannya pada bangsa terutama pada agama kita...
ku sangat yakin akan tiba masanya hadir kembali seorang Natsir, Hatta, Buya Hamka, Kadiman Singodimejo, dll
Ku yakin itu akan terwujud...