Bissmillahirrahmanirrahiim
Memasuki masa tuanya Ibrahim masih belum juga dikaruniai keturunan yang dapat melanjutkan risalahnya sebagai seorang Nabi Allah, namun Ia tetap bersemangat dan senantiasa bersyukur kepada Rabbnya.suatu ketika setelah menikah dengan Bunda Hajar, datanglah Jibril memberikan kabar gembira yang membuat Ibrahim begitu bersyukur kepada Rabbnya.”Hai Ibrahim berbahagialah Engkau karena Engkau akan dikaruniai seorang anak”dengan haru Ibrahim menjawab”mana mungkin Jibril?sedangkan aku adalah seorang yang sudah tua!”. namun ternyata apa yang disampaikan Jibril itu benar, bunda Hajar mengandung sedang Ibrahim menunggu kelahiran jabang bayi dengan begitu bahagia bercampur dengan harap-harap cemas. setalah kurang lebih sembilan bulan Ibrahim menunggu akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan Ibrahim memberinya nama Ismail.
Hari demi hari ia rasakan dengan suka cita sampai suatu saat datang sebuah perintah yang sempat membuat ibrahim bingung yaitu Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Ismail beserta ibunya di sebuah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwah,dan diajaklah mereka oleh Ibrahim dengan menunggang unta. sepanjang perjalanan Ibrahim gelisah sampai akhiranya ia tiba di gurun pasir yang dimaksud, “wahai Istreriku tinggallah engkau di sini bersama putraku” begitu lah titah singkat ibrahim sebagai salam perpisahan pula.Ibrahim berbalik meninggalkan mereka berdua tanpa di berikan bekal apapun di tengah padang pasir yang tandus! ketika hendak melangkah Bunda Hajar berkata “Wahai suamiku kenapa kau tinggalkan kami di isini?” sebanyak tiga kali Bunda bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada suaminya, namun Ibrahim tetap tidak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Sampai akhirnya Bunda hajar kembali bertanya ” wahai suamiku apakah ini perintah dari Allah Rabbmu dan juga Rabb kami?” seketika itu Ibrahim berhenti dari langkahnya dan berbalik, sambil meneteskan air mata ia menjawab dengan bergetar “Benar wahai Isteriku”.” Kalau begitu pergilah engkau wahai suamiku, jangan pernah khawatirkan keadaan kami di sini karena sesungguhnya Allah semata yang akan menjamin kami di sini”. dan pergilah Ibrahim dengan berat hati dan langkah yang gontai.
Kesulitan diujikan kepada Bunda Hajar, Ismail kecil menangis karena haus sedang tidak ada setetes air pun disekitar mereka. dari kejauhan Bunda melihat riak air di dekat sebuah bukit, berlarilah ia kearah sana sesampainya di sana ia hanya menemukan bukit batu yang tandus. namun ia tidak menyerah Ia tetap mencari, ia pandangi sekeliling bukit itu ketika pandangannya jatuh ke bukit tempat Ismail berada ia melihat air kembali kemudian ia berlari kembali ke arah riak air itu, semuanya ia lakukan demi Ismail tercinta dan ternyata bukit itu hanyalah sebuah bukit yang tandus tak berbeda dengan bukit pertama tadi. Bunda hajar tetap berlari di antara kedua bukit itu sebanyak 7 kali sembari betasbih Kepada Rabbnya. dengn lemas dan gontai ia kembali menghampiri Ismail dan ternyata Mukjizat Allah nampak terlihat,. di antara celah-celah gurun dekat kaki Ismail bergerak-gerak keluarlah air yang jernih sehingga Bunda dan Ismail kecil tidak kehausan lagi.bahkan tempat itu menjadi sebuah peristirahatan para saudagar yang sedang dalam perjelanan hingga akhirnya menjadi sebuah perkampungan penduduk.
Kurang lebih sudah 15 tahun sudah Ibrahim meninggalkan Bunda hajar dan Ismail kecil, kerinduan terhadap isteri dan anak tercinta menyusup setiap waktu kedalam hati sanubarinya, menghiasi setiap malamnya, mebuahkan bulir bulir airmata yang menganak sungai harapan untuk betemu hingga bermuara pada doa yang berlabuh dan larut ke samudera Allah yang Maha Mengabulkan atas Doa hambaNya. sampai datanglah Jibril kepadanya seraya berkata ” wahai Ibrahim rasul Allah, pergi temui anak dan isterimu di sana,kaena sesunguhnya mereka pun sedang merasakan hal yang sama dengan dirimu”. betapa bahagianya Ibrahim kerinduan yang membuncah membuat ia bangkit melangkah menyusuri gersangnya gurun pasir untuk bertemu dengan isteri dan anak tercinta.
sampailah ia di sebuah perkampungan yang sangat asing bagi dirinya, “Ibrahim!!kaukah itu” suara seorang perempuan memanggil dari sebuah pintu rumah, Ibrahim pun menoleh dengan penuh harap “wahai suamiku, engkaukah Ibrahim rasul Allah suamiku” setengah berlari kedua insan itu saling mendekat dan bertemu dalam keharuan….sedang mereka terlarut dalam keharuan setelah 15 tahun tidak bertemu tiba-tiba ada suara seorang remaja yang memanggil dengan getar suaranya yang memperlihatkan keheranan “Ibu siapakah lelaki yang ini?” Bunda Hajar pun menjawab “Wahi Ismail Putraku inilah ayahmu yang selama ini kau tanyakan, inilah ayahmu rasul Allah yang sangat taat padaNya” sambil berlinang air mata keharuan dan kerinduan dua orang shaleh itu berpelukan menghabiskan kerinduan-kerinduan yang ada dalam hati mereka.
Suatu malam Ibrahim bermimpi sedang menyembelih putra kesayangannya Ismail, Ibrahim tersadar dari tidurnya ia bangun dan menagis seraya berkata “duhai Allah yang menentukan nasib manusia, apa maksud dari mimpi ini ya Rabb?jika ini memang benar perintahMu maka berikanlah hamba petujuk hingga hamba yakin bahwa ini benar adalah perintahMu!” tiga malam berturut-turut Ibrahim mimpi hal yang sama, sehingga membuat ia yakin bahwa mimpinya itu adalah benar perintah Allah.
Suatu siang yang cerah Ibrahim Mengasah pisau sambil menagis, pisau yang akan menghantarkan Ismail pada kematian karena disembelih olehnya!setelah diyakini tajam Ibrahim mengajak putranya ke sebuah bukit di atas batu besar mereka duduk kemudian Ibrahim berkata pada putranya “Wahai putraku,tiga malam berturut-turut ayah bermimpi yang sekaligus mimpi itu perintah dari Alah”,”apakah mimpinya duhai Ayah” kata Ismail, ” dalam mimpi itu Ayah diperintahkan menyembelih sesuatu untuk ayah kurbankan kepada Allah, yang sembelih itu adalah engkau wahai anakku”Ibrahim tidak kuasa lagi meneruskan ucapannya,Ia menunduk dengan dalam, kemudian tanpa disangka sebelumnya Ismail berkata “wahai Ayah jika itu memang benar perintah Allah maka lakukanlah duhai Ayah!Aku ridho,Aku rela, Aku Ikhlas” Ibrahim tak bergeming tangisannya semakin pecah “lakukan sekarang juga duhai Ayah,bukalah baju bagian atasku agar darah dari leherku tidak mengotori baju ini, karena jika terdapat linangan darah tentu bunda akan sangat terpukul” dengan tenaga sisa yang ada Ibrahim membaringkan Ismail ke arah kiblat “Bismillahi LaIllaha IlaAllahuwahdah Lasyarikalah Lahul Mulku Wa Laul Hamdu Yuhyi Wa Yumit, Allahuakbar!!!!!!!!!!!”leher itu Ibrahim sembelih sambil menagis sedang matanya terpejam tak kuasa melihat anaknya yang sedang meronta meregang nyawa….
“Ayah………Ayah……..Ayah………”suara seorang anak memanggil dari arah belakang, dengan terkejut Ibrahim membuka matanya dan ternyata yang ia potong adalah seelor domba besar sedang putra tercintanya ada di belakang sedang berdiri sambil mengis memanggil namanya.”anakku Ismail………Anakku Ismail……..terimakasih duhai Allah!!!!!
Jika Ibrahim itu kita lalu bagaimanakah sikap kita? dan apa yang akan kita lakukan? setaat ibrahimkah kita?
Memasuki masa tuanya Ibrahim masih belum juga dikaruniai keturunan yang dapat melanjutkan risalahnya sebagai seorang Nabi Allah, namun Ia tetap bersemangat dan senantiasa bersyukur kepada Rabbnya.suatu ketika setelah menikah dengan Bunda Hajar, datanglah Jibril memberikan kabar gembira yang membuat Ibrahim begitu bersyukur kepada Rabbnya.”Hai Ibrahim berbahagialah Engkau karena Engkau akan dikaruniai seorang anak”dengan haru Ibrahim menjawab”mana mungkin Jibril?sedangkan aku adalah seorang yang sudah tua!”. namun ternyata apa yang disampaikan Jibril itu benar, bunda Hajar mengandung sedang Ibrahim menunggu kelahiran jabang bayi dengan begitu bahagia bercampur dengan harap-harap cemas. setalah kurang lebih sembilan bulan Ibrahim menunggu akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan Ibrahim memberinya nama Ismail.
Hari demi hari ia rasakan dengan suka cita sampai suatu saat datang sebuah perintah yang sempat membuat ibrahim bingung yaitu Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Ismail beserta ibunya di sebuah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwah,dan diajaklah mereka oleh Ibrahim dengan menunggang unta. sepanjang perjalanan Ibrahim gelisah sampai akhiranya ia tiba di gurun pasir yang dimaksud, “wahai Istreriku tinggallah engkau di sini bersama putraku” begitu lah titah singkat ibrahim sebagai salam perpisahan pula.Ibrahim berbalik meninggalkan mereka berdua tanpa di berikan bekal apapun di tengah padang pasir yang tandus! ketika hendak melangkah Bunda Hajar berkata “Wahai suamiku kenapa kau tinggalkan kami di isini?” sebanyak tiga kali Bunda bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada suaminya, namun Ibrahim tetap tidak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Sampai akhirnya Bunda hajar kembali bertanya ” wahai suamiku apakah ini perintah dari Allah Rabbmu dan juga Rabb kami?” seketika itu Ibrahim berhenti dari langkahnya dan berbalik, sambil meneteskan air mata ia menjawab dengan bergetar “Benar wahai Isteriku”.” Kalau begitu pergilah engkau wahai suamiku, jangan pernah khawatirkan keadaan kami di sini karena sesungguhnya Allah semata yang akan menjamin kami di sini”. dan pergilah Ibrahim dengan berat hati dan langkah yang gontai.
Kesulitan diujikan kepada Bunda Hajar, Ismail kecil menangis karena haus sedang tidak ada setetes air pun disekitar mereka. dari kejauhan Bunda melihat riak air di dekat sebuah bukit, berlarilah ia kearah sana sesampainya di sana ia hanya menemukan bukit batu yang tandus. namun ia tidak menyerah Ia tetap mencari, ia pandangi sekeliling bukit itu ketika pandangannya jatuh ke bukit tempat Ismail berada ia melihat air kembali kemudian ia berlari kembali ke arah riak air itu, semuanya ia lakukan demi Ismail tercinta dan ternyata bukit itu hanyalah sebuah bukit yang tandus tak berbeda dengan bukit pertama tadi. Bunda hajar tetap berlari di antara kedua bukit itu sebanyak 7 kali sembari betasbih Kepada Rabbnya. dengn lemas dan gontai ia kembali menghampiri Ismail dan ternyata Mukjizat Allah nampak terlihat,. di antara celah-celah gurun dekat kaki Ismail bergerak-gerak keluarlah air yang jernih sehingga Bunda dan Ismail kecil tidak kehausan lagi.bahkan tempat itu menjadi sebuah peristirahatan para saudagar yang sedang dalam perjelanan hingga akhirnya menjadi sebuah perkampungan penduduk.
Kurang lebih sudah 15 tahun sudah Ibrahim meninggalkan Bunda hajar dan Ismail kecil, kerinduan terhadap isteri dan anak tercinta menyusup setiap waktu kedalam hati sanubarinya, menghiasi setiap malamnya, mebuahkan bulir bulir airmata yang menganak sungai harapan untuk betemu hingga bermuara pada doa yang berlabuh dan larut ke samudera Allah yang Maha Mengabulkan atas Doa hambaNya. sampai datanglah Jibril kepadanya seraya berkata ” wahai Ibrahim rasul Allah, pergi temui anak dan isterimu di sana,kaena sesunguhnya mereka pun sedang merasakan hal yang sama dengan dirimu”. betapa bahagianya Ibrahim kerinduan yang membuncah membuat ia bangkit melangkah menyusuri gersangnya gurun pasir untuk bertemu dengan isteri dan anak tercinta.
sampailah ia di sebuah perkampungan yang sangat asing bagi dirinya, “Ibrahim!!kaukah itu” suara seorang perempuan memanggil dari sebuah pintu rumah, Ibrahim pun menoleh dengan penuh harap “wahai suamiku, engkaukah Ibrahim rasul Allah suamiku” setengah berlari kedua insan itu saling mendekat dan bertemu dalam keharuan….sedang mereka terlarut dalam keharuan setelah 15 tahun tidak bertemu tiba-tiba ada suara seorang remaja yang memanggil dengan getar suaranya yang memperlihatkan keheranan “Ibu siapakah lelaki yang ini?” Bunda Hajar pun menjawab “Wahi Ismail Putraku inilah ayahmu yang selama ini kau tanyakan, inilah ayahmu rasul Allah yang sangat taat padaNya” sambil berlinang air mata keharuan dan kerinduan dua orang shaleh itu berpelukan menghabiskan kerinduan-kerinduan yang ada dalam hati mereka.
Suatu malam Ibrahim bermimpi sedang menyembelih putra kesayangannya Ismail, Ibrahim tersadar dari tidurnya ia bangun dan menagis seraya berkata “duhai Allah yang menentukan nasib manusia, apa maksud dari mimpi ini ya Rabb?jika ini memang benar perintahMu maka berikanlah hamba petujuk hingga hamba yakin bahwa ini benar adalah perintahMu!” tiga malam berturut-turut Ibrahim mimpi hal yang sama, sehingga membuat ia yakin bahwa mimpinya itu adalah benar perintah Allah.
Suatu siang yang cerah Ibrahim Mengasah pisau sambil menagis, pisau yang akan menghantarkan Ismail pada kematian karena disembelih olehnya!setelah diyakini tajam Ibrahim mengajak putranya ke sebuah bukit di atas batu besar mereka duduk kemudian Ibrahim berkata pada putranya “Wahai putraku,tiga malam berturut-turut ayah bermimpi yang sekaligus mimpi itu perintah dari Alah”,”apakah mimpinya duhai Ayah” kata Ismail, ” dalam mimpi itu Ayah diperintahkan menyembelih sesuatu untuk ayah kurbankan kepada Allah, yang sembelih itu adalah engkau wahai anakku”Ibrahim tidak kuasa lagi meneruskan ucapannya,Ia menunduk dengan dalam, kemudian tanpa disangka sebelumnya Ismail berkata “wahai Ayah jika itu memang benar perintah Allah maka lakukanlah duhai Ayah!Aku ridho,Aku rela, Aku Ikhlas” Ibrahim tak bergeming tangisannya semakin pecah “lakukan sekarang juga duhai Ayah,bukalah baju bagian atasku agar darah dari leherku tidak mengotori baju ini, karena jika terdapat linangan darah tentu bunda akan sangat terpukul” dengan tenaga sisa yang ada Ibrahim membaringkan Ismail ke arah kiblat “Bismillahi LaIllaha IlaAllahuwahdah Lasyarikalah Lahul Mulku Wa Laul Hamdu Yuhyi Wa Yumit, Allahuakbar!!!!!!!!!!!”leher itu Ibrahim sembelih sambil menagis sedang matanya terpejam tak kuasa melihat anaknya yang sedang meronta meregang nyawa….
“Ayah………Ayah……..Ayah………”suara seorang anak memanggil dari arah belakang, dengan terkejut Ibrahim membuka matanya dan ternyata yang ia potong adalah seelor domba besar sedang putra tercintanya ada di belakang sedang berdiri sambil mengis memanggil namanya.”anakku Ismail………Anakku Ismail……..terimakasih duhai Allah!!!!!
Jika Ibrahim itu kita lalu bagaimanakah sikap kita? dan apa yang akan kita lakukan? setaat ibrahimkah kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar